Indonesia

Wafatnya Khadijah RA, Istri Nabi, pada 11 Ramadan dan Tahun Kesedihan

Liputan6.com, Jakarta Khadijah binti Khuwailid adalah istri pertama sekaligus istri yang paling Nabi Muhammad SAW yang paling ia hormati dibanding istri-istrinya yang lain. Tak heran, karena Khadijah adalah orang pertama yang meyakini Rasulullah dan selalu mendampingi beliau selama berdakwah hingga akhir hayat.

Khadijah RA wafat pada hari ke-11 bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah berusia sekitar 50 tahun. Ketika Khadijah wafat, Rasulullah amat terpukul. Apalagi hari kematian Khadijah tidak berselang lama dari kematian paman kesayangan Nabi, Abu Thalib. Oleh karena itu, masa-masa ini disebut sebagai tahun berkabung bagi Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat disebutkan kalau Rasulullah baru menikah lagi setelah Khadijah wafat.

Bagi Rasulullah sendiri, Khadijah sangat istimewa. Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Beliau berkata kepada Rasululllah SAW, “Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.”

Rasulullah menjawab,”Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya,” jawab Rasulullah.

Khadijah memang telah mengorbankan semuanya. Kekayaannya, kebangsawanannya, dan kemuliannya dalam mendukung dakwah Nabi Muhammad. Khadijah adalah orang yang mula-mula masuk Islam. Dia pula yang pertama kali diajari salat dan wudu.

 

Detik-detik kematian Khadijah

Khadijah adalah istri yang paling dihormati Nabi. Ilustrasi perempuan berdoa di tengah fajar (Liputan6/Istock)

Detik-detik saat Khadijah merasa ajalnya semakin dekat, wanita mulia itu memanggil Fathimah Azzahra dan berbisik, “Fathimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan serbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”

Mendengar itu Rasulullah SAW berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.”

 

Ummul Mukminin, Khadijah, pun mengembuskan nafas terakhirnya di pangkuan suami tercinta, Rasulullah SAW. Khadijah pun didekap dengan perasaan pilu dan sedih yang teramat sangat. Melihat air mata Rasulullah turun, ikut menangis pula semua orang yang ada di situ.Saat itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya. “Untuk siapa sajakah kain kafan itu wahai Jibril?

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fathimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril. Kemudian Jibril berhenti berkata dan menangis.

Rasulullah bertanya, Kenapa Ya Jibril? “Cucumu yang satu, Husain (putera Sayyidina Ali) tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” sahut Jibril.

Rasulullah SAW berkata di dekat jasad Khadijah. “Wahai Khadijah, istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu.”

“Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar serban?”

Rasulullah semakin sedih mengenang istrinya semasa hidup. Pengorbanan Khadijah sungguh tak ada duanya. Itulah yang menyebabkan Rasulullah sulit melupakan istri pertamanya itu.

Bahkan dikisahkan, saking cintanya Rasulullah SAW pada Khadijah, Aisyah pernah merasa sangat cemburu. Dari penuturan Aisyah, Nabi selalu menyebut nama Khadijah setiap hari sebelum keluar rumah. Aisyah yang cemburu mengatakan,” Bukankah ia hanya seorang tua bangka? Sungguh Allah telah memberimu ganti yang baik,” kata Aisyah. Nabi sangat marah mendengar perkataan Aisyah itu sampai rambutnya bergetar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Related Articles

Close