Indonesia

BEI Bakal Gencar Sederhanakan Pembukaan Rekening Efek

Liputan6.com, Jakarta – Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi mengatakan, pihaknya terus mendukung perusahaan rintisan atau startup digital agar bisa tercatat di pasar modal. Salah satunya dengan melakukan simplifikasi pembukaan rekening efek.

“Kalau kita lihat inisiatif dari kita, salah satunya juga merupakan adanya suatu simplifikasi pembukaan rekening. Itu inisiatif yang kita sekarang galakkan,” ujar dia di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Inarno menyebutkan, proses penyederhanaan secara digital ini dapat mempermudah dan mempercepat pembukaan rekening efek.

“Jadi tadinya investor mengeluhkan untuk pembukaan rekening yang biasanya dua atau bahkan tiga minggu. Dengan adanya simplifikasi pembukaan rekening tersebut, kita bisa mempersingkat proses tersebut. Bisa sekitar di bawah satu jam,” urainya.

Hal kedua yang mendukung startup digital listing di bursa yakni distribusi dari Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Negara (SBN) yang juga sudah melalui perusahaan financial technology (fintech) untuk pasar perdananya.

“Jadi itu merupakan dukungan kita terhadap perkembangan dari digital transaksi,” ungkap dia.

Selain itu, Inarno pun membuka kemungkinan, simplifikasi pembukaan rekening efek juga akan ikut melibatkan fintech. Namun, lanjutnya, ada beberapa prosedur yang musti dipermudah.

“Kalau tadinya harus tatap muka, mungkin bisa melalui digital tatap mukanya. Kalau tadinya harus tandatangan basah, nanti bisa digital signature,” ujar dia.

 

 

* Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

BEI Tunggu Restu Pemegang Saham 4 Unicorn Indonesia untuk IPO

Banner Infografis 4 Unicorn di Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Sebelumnya, manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI)  mengaku telah melakukan pendekatan intensif kepada empat unicorn di tanah air.

Unicorn itu antara lain Go-Jek, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia untuk mencatatkan saham di BEI.

Direktur Penilaian Perusahan BEI, I Gede Nyoman Yetna menuturkan, pihaknya telah bertemu dan berdiskusi dengan keempat startup unicorn tersebut untuk mengajak melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

“Sudah diskusi dan sudah ketemu. Tapi tergantung dari pemegang saham mereka,” ujar dia di Jakarta, Rabu, 20 Maret 2019.

Nyoman menambahkan, pihaknya telah melakukan relaksasi aturan untuk mengakomodasi perusahaan startup melakukan IPO. 

“Kami sudah akomodasi, bukan hanya bagi perusahaan manufaktur. Tetapi juga, bagi perusahaan yang valuasinya berdasarkan intangible,” kata dia.

Menurut Nyoman, direksi keempat unicorn itu membutuhkan persetujuan dari pemegang saham terkait ajakan IPO. Lantaran, para pemegang saham antara lain adalah investor-investor asing.

“Mereka perlu approval dari pemegang sahamnya untuk melakukan IPO,” ungkapnya.

Nyoman memastikan, BEI telah menyiapkan infrastruktur bagi perusahaan unicorn maupun perusahaan rintisan lainnya yang akan IPO atau menawarkan sahamnya kepada publik.

“Pintu sudah kami buka. Call-nya ada di mana? Ya ada di mereka,” pungkasnya.

 

Alasan Unicorn Tumbuh Cepat di Indonesia

lustrasi Investasi Penanaman Uang atau Modal (iStockphoto)

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Rudiantara menyebutkan, merupakan tugas pemerintah untuk mempermudah dari sisi regulasi untuk pertumbuhan unicorn di dalam negeri. 

Hal ini ia ungkapkan lantaran banyak kabar yang beredar, unicorn banyak didanai oleh pihak asing. Kata dia, unicorn justru membawa banyak kemudahan bagi hidup masyarakat.

“Unicorn itu cara baru untuk selesaikan masalah, kenapa startup di Indonesia tumbuh cepat karena mereka selesaikan permasalahan di masyarakat. Saya tanya, mau enggak gojek ditutup di Indonesia? Enggak? Mau pesen tiket harus ke travel biro karena tidak ada traveloka,” ujarnya di Jakarta, Selasa 26 Februari 2019.

Dia menuturkan, pemerintah justru perlu mendukung keberlangsungan unicorn mengingat fungsinya sebagai alat yang mempermudah hidup banyak masyarakat.

“Teknologi ini bertindak sebagai enabler atau alat. Kita harus dorong startup di Indonesia karena muncul pemikiran-pemikiran baru, cara-cara baru,” ujar Rudiantara.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah perlu memfasilitasi kehadiran unicorn di dalam negeri.

“Juga pemerintah bukan hanya menerapkan laytouch regulation tapi juga fasilitasi dengan kembangkan 1.000 startup dengan ekosistem karena banyak anak muda jago teknologi. Kita fasilitasi properly bagaimana mereka bisa diakselerasi,” kata Rudiantara.

 

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Related Articles

Close