Indonesia

Bangkai Kapal Dmitrii Donskoi Ditemukan, Dipercaya Simpan 200 Ton Emas

Liputan6.com, Jakarta Istilah harta karun sudah tidak asing ditelinga kita. Harta karun adalah harta yang bernilai banyak namun masih tersimpan disuatu tempat. Harta karun ternyata memang nyata adanya, tak hanya fiksi belaka. Bahkan beberapa orang mengaku telah menemukan harta karun, bahkan hingga membuat sebuah tim pencarian harta karun. 

Sebuah tim pencari harta karun Korea Selatan berhasil menemukan bangkai kapal perang Rusia bernama Dmitrii Donskoi yang tenggelam 113 tahun lalu. Kapal perang itu ditinggalkan di perairan Pulau Ulluengdo pada 1905 agar tidak jatuh ke tangan Jepang dalam pertempuran Tsushima antara Rusia-Jepang saat itu.

Dmitrii Donskoi diyakini membawa pasokan emas untuk Skuadron Pasifik Kedua saat tenggelam. Seluruh emas itu saat ini bernilai 113 miliar dolar atau sekitar Rp1.600 triliun, seperti yang Liputan6.com lansir dari Daily Mail, Senin (22/4/2019).

Menemukan Bangkai Kapal Dmitrii Donskoi

Kapal Dmitrii Donskoi (sumber: dailymail)

Para penyelam Shinil Group telah mencari reruntuhan kapal ini selama beberapa tahun dan akhirnya menemukan lokasi kapal. Kapal itu tenggelam di kedalaman 434 meter sekitar 1,6 kilometer dari pantai Pulau Ulluengdo.

Tim pencari memastikan reruntuhan kapal itu adalah Dmitrii Donskoi karena bentuk layar dan tiang-tiangnya sama dengan kapal yang hilang itu.

Kapal Rusia itu memiliki tiga tiang layar, dua cerobong asap, serta menggunakan tenaga angin dan uap untuk berlayar. Kepastian berikutnya diperoleh sehari setelah penemuan itu.

Setelahnya ditemukan nama kapal yang ditulis dalam huruf Cyrillic di buritannya. Para penyelam mengatakan, kondisi buritan kapal amat buruk, begitu pula lambungnya yang terbelah. Namun, sebagian besar dek atasnya masih utuh.

Lapisan baja di lambung kapal masih dalam kondisi cukup bagus sementara meriam, senapan mesin, jangkar, dan kemudi masih berada di tempatnya masing-masing. Sementara itu, kotak-kotak besi dalam jumlah besar ditemukan di ruang penyimpanan. Diduga kuat kotak-kotak besi itu berisi emas, meski para penyelam belum berhasil membukanya.

Sejarah Dmitrii Donskoi

Kapal Dmitrii Donskoi (sumber: dailymail)

Dmitrii Donskoi selesai dibangun pada 1883 dan menghabiskan sebagian besar masa tugasnya di Laut Tengah sebelum bergabung dengan Skuadron Kedua Pasifik AL Rusia pada 1904, setelah sebagian besar kekuatan pasukan Rusia Timur Jauh dihancurkan Jepang.

Kapal ini bertugas mengawal kapal angkut dan berada di bagian belakang konvoi saat dicegat armada Jepang yang lebih besar pada Mei 1905.

Pencegatan itulah yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Pertempuran Tsushima yang berujung kekalahan Rusia. Saat itu, Rusia kehilangan 21 dari 28 kapal Rusia tenggelam dan menewaskan 4.500 tentara.

Sementara Jepang hanya kehilangan 3 kapal dan 117 tentara tewas. Dmitrii Donskoi berhasil menyingkir dari pertempuran itu meski rusak parah.

Kapal itu berusaha berlayar menuju pelabuhan Vladivostok, Rusia. Namun, sebelum tiba di kota pelabuhan itu, kapal-kapal perang kembali mencegat dan menembaki Dmitrii Donskoi.

Akibatnya 60 orang kru tewas dan 120 lainnya terluka, termasuk Kapten Ivan Lebedev yang kemudian memerintahkan untuk buang jangkar di lepas pantai Ulluengdo dan membawa pasukannya ke darat. Sehari kemudian kapal itu ditenggelamkan agar tak jatuh ke tangan Jepang.

Harga Harta di Kapal Dmitrii Donskoi

Kini operasi pengangkatan bangkai kapal itu dari dasar laut sedang dikerjakan bersama perusahaan dari China, Kanada, dan Inggris. Shinil Group yakin terdapat setidaknya 200 ton emas di kapal itu yang kini bernilai lebih dari Rp 1.600 triliun.

Jika perkiraan ini benar, maka Shinil Group harus mendonasikan 10 persen hasil temuan itu untuk membantu pembangunan Pulau Ulluengdo yang meski nyaris tak berpenduduk tetapi merupakan daerah tujuan wisata penting di Korea Selatan.

Sedangkan 10 persen lainnya harus diberikan kepada pemerintah Rusia sebagai pemilik kapal. Uang itu nantinya akan digunakan untuk membangun sejumlah proyek seperti jalur kereta api yang menghubungkan Korea Selatan dan Rusia dengan melintasi Korea Utara.

Related Articles

Close