Indonesia

6 Cerita Pilu Pejuang Pemilu 2019 di Tanah Air

Liputan6.com, Jakarta – Pemilu serentak memang telah usai. Namun masih banyak cerita perjuangan di balik kontestasi lima tahunan ini yang tidak banyak orang ketahui.

Jika pemilih kebanyakan bingung karena harus mencoblos lima kertas suara yang berbeda atau kebingungan untuk melipat surat suara yang mereka coblos. Kesulitan yang dialami oleh penyelenggara pemilu lebih berat lagi.

Beberapa hari sebelum pemilihan umum diselenggarakan, para petugas sudah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan seperti menyalurkan logistik pemilu ke setiap TPS dan menjamin keamanan logistik tersebut. Bahkan, sudah ada kabar karena medan yang berat, tidak sedikit para petugas ini harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilometer untuk mendistribusikan logistik.

Belum lagi pada 17 April 2019, hari saat pemilu serentak ini diselenggarakan, Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) sudah harus bersiap-siap sejak matahari belum terbit, agar para pemilih di setiap TPS bisa menyalurkan hak suara mereka tepat waktu. 

Usai pencoblosan, kira-kira pukul 13.00 waktu setempat, para petugas KPPS itu masih harus berjibaku untuk menghitung surat suara di masing-masing TPS dengan teliti yang kadang harus selesai pada dini hari. Maka dari itu tak sedikit dari mereka yang kelelahan hingga menjalani perawatan di Rumas Sakit bahkan, ada yang berpulang ke Yang Maha Kuasa.

Liputan6.com mencoba merangkum cerita-cerita perjuangan para petugas KPPS hingga Polisi yang harus berkorban demi terselenggaranya pemilu serentak dengan baik dan aman di setiap daerah.

Petugas KPPS Bertaruh Nyawa di Timika

Helikopter jenis Bell TNI AD  (Dok : Liputan6.com)

Heli Penerbad Bell 412/HA-5177, berhasil membawa 28 orang keluar dari Distrik Alama, Kabupaten Mimika, usai pelaksanaan pemilu 2019 di distrik itu.

Ke-28 orang tersebut, 6 orang di antaranya adalah penyelenggara pemilu dan sisanya adalah personel TNI-Polri yang bertugas mengawasi jalannya pemungutan suara pada 17 April kemarin.

Komandan Kodim 1710/Mimika, Letkol Inf Pio L. Nainggolan membantah adanya penembakan ke arah helikopter, saat dilakukan penjemputan. Walau begitu, informasi yang diterimanya, terdengar dua kali tembakan dari arah kejauhan.

“Kita bersyukur tak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Kami mendahulukan kesemalatan manusia dan form C1 terlebih dahulu. Sementara logistik pemilu lainnya ditinggal di Distrik Alama,” jelas Pio, Kamis (18/4/2019).

Menurutnya, jika nantinya logistik pemilu 2019 yang tertinggal di sana harus diambil, akan dilakukan pengambilan saat waktu yang lebih aman dan kondusif.

Pio menyebutkan untuk hari ini, sejak pukul 06.00 WIT, Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) memang sudah menembaki ke arah petugas pemilu dan anggota keamanan di sana. Kemudian pada pukul 08.00 WIT, saat pesawat perintis Susi Air mendarat di lapangan terbang Distrik Alama, juga terdengar bunyi tembakan.

Lalu, sekitar pukul 14.35 WIT, dua helikopter dikirim ke Distrik Alama untuk menjemput personel dan mendarat di lapangan terbang Distrik Alama.

“Kami melakukan dua kali penerbangan ke Distrik Alama dan petugas keseluruhan berhasil dievakuasi ke Distrik Agimuga yang kebetulan lokasinya lebih kondusif, karena terdapat koramil, polsek dan Pos Yonif 754,” ujarnya.

Saat ini, di Distrik Agimuga masih tersisa 7 personel dari Yon B Brimob Timika, karena dalam penerbangan terakhir heli tak dapat melakukan penerbangan akibat cuaca buruk. “Kami akan melakukan penjemputan esok hari dengan heli Penerbad yang sama,” jelasnya.

Komisioner Bawaslu Papua, Ronald Manoach membenarkan kejadian tersebut. Ronald mengatakan informasi yang diterimanya, bunyi tembakan terjadi hingga delapan kali.

Ronald menyebutkan bahwa Distrik Alama merupakan daerah merah akan gangguan keamanan. Pihak ketiga pun tak berani melakukan pengiriman ke lokasi ini.

“Makanya, kami meminta bantuan TNI/Polri, untuk masuk ke daerah sana, sehingga TNI/Polri yang mengambil alih pendistribusian dan penjemputannya,” ujarnya.

Namun, menurut Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Aidi tak ada penembakan ke arah helikopter. Bahkan, suara tembakan hanya terdengar satu kali dan bunyi ini diragukan, sebab suara heli yang sangat bising.

“Tidak ada penembakan, yang ada pada saat heli pertama berangkat ke Distrik Alama terdengar suara seperti tembakan 1 kali, tapi jarak jauh. Penjemputan personel dan petugas pemilu 2019 di Distrik Alama dilakukan dengan aman dan semuanya telah kembali,” ucapnya.

Pilu Ketua KPPS yang Ditinggal ‘Pergi’ Sang Ibunda

Kasman Ola Samon nampak terus bekerja di TPS (Liputan6.com/Ola Keda)

Mendapat kepercayaan sebagai Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) membuat Kasman Ola Samon harus bertanggung jawab penuh terhadap suksesnya Pemilu 2019.

Dalam kesibukannya sebagai Ketua KPPS TPS 2 Desa Riangduli, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, NTT, ibundanya, Saidah Barek Bahin dinyatakan meninggal dunia pada, Rabu 17 April 2019 sekitar pukul 01.00 Wita.

Meski diselimuti duka, Kasman tetap setia pada tugas yang diembannya. Hal itu dibuktikan dengan ia terus bekerja di TPS yang dipimpinnya. Ia sempat berlari ke rumah duka memeluk ibunya yang sudah terbujur kaku.

“Paginya ia bekerja seperti biasa di KPPS. Sesekali ia lari ke rumah. Ibu dimakamkan 17 April 2019 pukul 15.00 Wita. Usai pemakaman, ia kembali bekerja hingga selesai penghitungan suara,” tutur keluarga Kasman, Sherly Tokan kepada Liputan6.com, Kamis (18/4/2019).

Ia mengatakan, selain Kasman, adik kandung Kasman, Saiful pun masih menggunakan hak pilihnya sebelum jenazah ibu mereka dimakamkan.

Usai pemakaman, Kasman kembali ke TPS untuk melanjutkan rekapitulasi suara hingga dini hari. Semoga arwah Ibu Saidah diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Bukan tidak mencintai ibu mereka, tetapi wujud kesetiaan pada tugas dan kewajiban sebagai warga negara yang baik sudah ditunjukkan kepada kita semua,” katanya.

 

Petugas RSJ Cegat Pasien Hendak Bakar Rumah

Suasana pemilu di TPS Rumah Sakit Jiwa, Kendari, Rabu (17/4/2019). (Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

Pasien di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Kota Kendari memiliki hak suara pada Pemilu 2019, Rabu (17/4/2019). Tercatat, ada 6 orang pasien yang namanya masuk dalam Daftar Pemilih Tetap Tambahan (DPTB) pada TPS 16 yang terletak di samping kompleks rumah sakit di Kelurahan Tobuha Kecamatan Puuwatu Kota Kendari.

Dari jumlah sebanyak ini, terungkap hanya satu orang pasien saja yang diberi kesempatan memilih. Sementara, 6 orang lainnya batal mencoblos karena pertimbangan mendadak yang dikeluarkan pihak rumah sakit.

Tiba-tiba, sesaat sebelum pemilihan keenam pasien terlihat gelisah. Malah, salah seorang di antaranya mengatakan hendak membakar rumah.

Dokter Ahli Jiwa RSJ Kota Kendari, Junuda membenarkan hal itu. Dia menarik kembali rekomendasi karena keenamnya dirasakan berpotensi mengganggu jalannya pemilihan umum.

“Kita batalkan, hanya 1 yang dibolehkan. Sebenarnya lebih dari 7 yang memilih, tapi sebagian sudah dibolehkan pulang ke rumah,” ujar Junuda, Kamis (18/4/2019).

Dia menjelaskan, salah satu alasan dia membatalkan pasiennya memilih karena ada salah seorang pasien yang menyatakan akan membakar rumah sesaat sebelum masuk ke dalam tenda pemilihan. Sehingga, mereka dibolehkan jika ada surat keterangan dokter.

Pasien tersebut, masuk di rumah sakit karena memiliki riwayat membakar rumah miliknya. Tak ingin mengambil resiko, mereka kembali dimasukan di dalam ruangan RSJ.

“Pasien itu kuat-kuat. Mereka itu, jendela dan pintu besi saja mereka bisa kasi rusak, apalagi cuma tenda dan kardus,” ujarnya.

 

Kelelahan, Petugas KPPS Meninggal Dunia

Petugas KPPS memperlihatkan contoh surat suara kepada pemilih saat simulasi pemungutan dan pencoblosan surat suara Pemilu 2019 di Taman Suropati, Jakarta, Rabu (10/4). Simulasi itu untuk meminimalisir kesalahan dan kekurangan saat pencoblosan pemilu pada 17 April nanti. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kabar duka datang dari TPS 08 Desa Cikuya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Seorang pengawas Tempat Pemungutan Suara (TPS) Bawaslu Iwan Hermawan (55), meninggal dunia usai mengawal proses pungut hitung suara, rekap, dan pengembalian logistik ke PPS, Kamis, (18/4/2019).

Menurut Koordinator Pengawasan dan Humas Bawaslu Kabupaten Bandung, Hedi Ardia, kabar Iwan meninggal diperoleh dari keluarga.

“Kami mendapatkan kabar beliau meninggal pada pukul 04.00 WIB dini hari,” ujar Hedi dihubungi Liputan6.com, Jumat (19/4/2019).

Hedi menjelaskan, kronologi meninggalnya Iwan terjadi setelah yang bersangkutan mengawal proses pungut hitung suara, rekap, dan pengembalian logistik ke PPS.

“Yang bersangkutan setelah menyelesaikan laporan, pulang ke rumah jam 01.00 WIB dini hari. Sesampainya di rumah beliau merasa sesak,” kata Hedi.

Keluarga sempat melarikan Iwan ke Rumah Sakit Cikopo. “Diduga meninggal karena kelelahan,” kata Hedi.

Hedi menyebut pihaknya sudah melakukan kunjungan untuk menyatakan turut berduka cita kepada keluarga Iwan. Perwakilan Bawaslu juga turut memberikan santunan kepada keluarga.

“Kamis paginya, kita secara kelembagaan sudah takziah dan menyatakan belasungkawa,” ucapnya.

Selain itu, kejadian yang menimpa Iwan juga menjadi perhatian Bawaslu.

“Kami sudah menyampaikan ke Bawaslu provinsi dan secara tertulis ke Bawaslu RI untuk jadi perhatian keseluruhan lembaga atas nama Bawaslu dan memberikan perhatian sekaligus ucapan terima kasih atas dedikasi almarhum,” kata Hedi.

Anggota KPPS Keguguran Usai Hitung Surat Suara

Sri Wahyuni (30) ibu rumah tangga anggota KPPS dirawat di RS usai alami keguguran kandungan, Sabtu (20/4/2019).

Bertugas menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau KPPS pada Pemilu 2019 menyisakan sejumlah cerita duka. Salah seorang petugas KPPS asal Konawe, mengalami keguguran kandungan karena kelelahan bertugas. Dia dilarikan ke rumah sakit, Kamis, 18 April 2019.

Namanya Sri Wahyuni (30), seorang anggota KPPS 3 yang direkrut KPU Kabupaten Konawe untuk bertugas di TPS 1 Desa Lalonggotongi, Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe. Ibu 2 anak ini, selain bekerja sebagai guru, dia juga bertugas sebagai anggota KPPS sejak seminggu sebelum Pemilu 2019, Rabu (17/4/2019).

Sejak bekerja sebagai anggota KPPS Pemilu 2019, Sri Wahyuni tak mengira pekerjaan sambilannya itu akan berpengaruh pada kesehatannya. Bahkan, untuk mengejar honor sejumlah Rp 500 ribu, dia rela melalui jalanan yang agak rusak dari desanya menuju lokasi TPS.

“Mungkin karena jalan rusak juga dan pastinya karena kecapekan,” ujar suaminya, Muhammad Agus (32), Sabtu (20/4/2019).

Puncaknya terjadi pada saat hari Pemilu 2019 hingga keesokan harinya, Kamis (18/4/2019). Sri Wahyuni bersama sejumlah rekannya begadang hingga subuh di TPS. Mereka menyelesaikan proses rekapan suara sampai harus menginap di TPS.

Sri Wahyuni mengaku tak bisa pulang ke rumah sebelum tugas selesai. Sebab, mulai dari ketua hingga anggota KPPS, bahkan makan dan salat di lokasi TPS.

“Pas habis begadang itu, keesokan paginya saya langsung keluar darah, saya awalnya belum tahu,” ujarnya.

Dia melanjutkan, dirinya langsung dilarikan ke rumah sakit oleh suaminya. Saat dicek dokter, ternyata Sri Wahyuni mengalami keguguran.

“Setelah dicek, usia kandungan saya sekitar 1 bulan. Dokter langsung melakukan operasi kuret rahim untuk membersihkan sisa-sisa darah,” ujarnya.

Dokter Adi, salah seorang dokter kandungan yang merawat Sri Wahyuni mengatakan, pasien harus mendapatkan perawatan hingga pulih. Minggu (21/4/2019) pasien baru bisa pulang dari rumah sakit.

“Kita sudah lakukan operasi. Mudah-mudahan hasilnya baik, tinggal beristirahat saja,” ujar dokter kepada pihak keluarga.

Polisi di Medan Meninggal Dunia Usai Kawal Pemilu 2019

(Ilustrasi)

Seorang personel kepolisian di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara (Sumut) bernama Aiptu Jonter Siringoringo (51) meninggal dunia saat mengawal proses pemungutan suara Pemilu 2019.

Kasubbag Humas Polres Dairi, Ipda Donni Saleh mengatakan, Aiptu Jonter tercatat sebagai anggota Satuan Reserse Kriminal Polres Dairi. Jonter meninggal dunia pada Kamis, 18 April 2019.

“Sebelum meninggal dunia, Jonter sempat mengawal surat suara Pemilu 2019 di TPS yang berada di Tiga Baru, Kecamatan Pegagan Hilir, Dairi,” kata Donni, Sabtu, 20 April 2019.

Donni mengatakan, Jonter juga sempat berjaga di TPS Tiga Baru, sejak Rabu, 17 April 2019, hingga pergeseran surat suara dari TPS ke PPS. Sesaat sebelum meninggal dunia, Jonter merasa dadanya sesak, kemudian dia izin pulang kepada Kapolsek Sumbul, AKP Abdul Rahman Siregar.

“Pada pukul 14.00 WIB, Jonter tiba di rumah. Kepada istrinya, dia mengeluh sesak nafas dan dadanya sesak. Kemudian dibawa ke rumah sakit,” ucapnya.

Sekitar pukul 14.20 WIB, atau 20 menit kemudian, Jonter tiba di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidikalang untuk mendapat perawatan dan diperiksa secara medis. Dua jam setelah diperiksa oleh, atau pukul 16.50 WIB, Jonter mengembuskan nafas terakhir.

“Jonter meninggal di UGD RSUD Sidikalang. Dari hasil pemeriksaan pihak rumah sakit, Jonter mengalami serangan jantung,” sebut Donni.

Selanjutnya jenazah Jonter dibawa ke rumah duka, Jalan Pemuda, Sidikalang. Para pimpinan di jajaran Polres Dairi datang melayat, termasuk Kapolres Dairi, AKBP Erwin Wijaya Siahaan.

Donni mengungkapkan, Jonter dinilai meninggal dunia setelah menjalankan tugas mengawal TPS Pemilu 2019 di Tiga Baru, Kecamatan Pegagan Hilir, Dairi. Jonter mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa, naik setingkat menjadi Ipda anumerta.

“Kenaikan pangkat luar biasa diberikan kepada Jonter digelar di Mapolres Dairi hari ini,” ungkapnya.

Dalam proses upacara kenaikan pangkat yang diperoleh Jonter, dipimpin langsung Kapolres Dairi, AKBP Erwin Wijaya. Upacara sekaligus pemberangkatan jenazah Jonter untuk dimakamkan di kampung halamannya yang berada di Samosir.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Related Articles

Close